Kapan menggunakan Bridge – Skenario 1

Posted on Posted in Konsep Jaringan, MikroTik

icon_bridgeKapan kita akan menggunakan sebuah bridge? Apakah kita membutuhkan bridge? pertanyaan-pertanyaan ini selalu dilontarkan pada saat seorang network engineer merancang dan melakukan implementasi jaringan komputer. Berdasarkan pengalaman kami mengelola network, kebutuhan menggunakan bridge adalah pada saat kita ingin menyederhanakan jaringan, terutama untuk penyederhanaan pengalamatan (IP Address). Namun, ternyata jawaban tersebut sulit untuk diimplementasikan karena ternyata di “real implementation” kita tidak pernah menjumpai sebuah perangkat yang bernama bridge. Yang umum kita temui tentunya adalah Router dan Switch. Sehingga, kapan akan menggunakan bridge, selalu saja menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas.

Pada artikel ini akan dibahas, bagaimana penerapan bridge pada suatu jaringan wireless, beserta perbandingannya jika tidak menggunakan bridge (jika tidak bridge, yang hadir adalah router). Namun, sebelum Anda membaca lebih jauh artikel ini, sebaiknya Anda membaca artikel tentang Bridge Overview .

Topologi yang digunakan pada artikel ini adalah topologi sederhana, dimana dibutuhkan 3 (tiga) unit Access Point. Topologinya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

wireless_bridge_0

Alternatif 1 (Access Point)

Pilihan pertama yang dapat digunakan untuk membangun jaringan seperti pada topologi di atas, adalah menggunakan perangkat 3 (tiga) unit Access Point, perlu dicatat, menggunakan Access Point !!!, bukan Wireless Router. Contoh perangkat Access Point yang pernah kami gunakan adalah Linksys WAP54G. Perangkat ini adalah murni perangkat Access Point, sehingga bekerja di Layer 2 dari OSI Model. Perangkat ini memiliki 2 interface, masing-masing adalah 1 unit interface wireless dan 1 unit interface kabel (ethernet). Walaupun memiliki 2 (dua) interface, namun kedua interface tersebut merupakan satu kesatuan, layaknya port-port pada switch. Jadi, Linksys WAP54G ini bisa diibaratkan sebagai sebuah switch yang memiliki 2 port, namun salah satu portnya adalah interface wireless. Penampakan perangkat ini dapat dilihat pada gambar berikut.

wap54g_depan

wap54g_belakang
Sekali lagi, perlu dicatat, perangkat di atas adalah Access Point !!! Perangkat yang bekerja di Layer 2 OSI Model, layaknya sebuah Switch.

Jika benar kita menggunakan Access Point, maka implementasinya pada jaringan yang akan kita bangun akan terlihat seperti berikut ini.

wireless_bridge_1

Dari gambar di atas, Anda dapat melihat bahwa, ketiga Access Point bekerja pada jaringan yang sama, pada jaringan dengan network address 192.168.2.0/24. Ini menyebabkan ketiga laptop yang ada, meskipun terhubung ke Access Point yang berbeda-beda, ketiganya tetap akan menggunakan IP Address 192.168.2.xx/24. Dan secara keseluruhan jaringan yang ditangani Router GW hanyalah 2 (dua) network, masing-masing network 192.168.1.0/24 (untuk jaringan kabel) dan network 192.168.2.0/24 (untuk jaringan wireless).

Dengan penggunaan Access Point, jaringan wireless akan terlihat lebih sederhana. Namun, sayangnya, perangkat Access Point semakin langka di pasaran. Relatif, saat ini kami tidak pernah lagi menjumpai perangkat yang namanya Access Point, yang kami jumpai adalah Router yang diberi Access Point, atau nama ilmiahnya adalah Wireless Router. Dengan langkanya Access Point, maka untuk konfigurasi pada alternatif ini, relatif tidak mungkin lagi dilakukan.

Sebagai catatan, sebelum melanjutkan pembahasan, pada titik ini, Anda sudah harus bisa membedakan mana Access Point dan mana Router + Access Point = Wireless Router. Bagi pekerja lapangan, memang semua perangkat yang memancarkan signal wireless akan dianggap sebagai Access Point, namun bagi Anda yang menulis tulisan ilmiah, seperti skripsi, thesis, jurnal, laporan, maupun penulis buku, sudah harus bisa membedakan mana Access Point dan mana Wireless Router, kedua ‘barang’ tersebut sungguh jauh berbeda.

 

Alternatif 2 (Wireless Router)

Karena praktis di lapangan yang ada saat ini adalah Wireless Router, maka implementasi jaringan pada artikel ini hanya akan bisa dibangun dengan menggunakan Wireless Router. Perlu diingat, Wireless Router adalah perangkat yang bekerja di Layer 3 OSI Model, sehingga perangkat ini bersifat memecah jaringan. Bila kita mengganti Access Point pada pembahasan sebelumnya dengan Wireless Router, maka network 192.168.2.0/24 akan terpecah menjadi beberapa network. Implementasinya akan terlihat seperti pada gambar berikut ini, perhatikanlah bahwa setiap interface Wireless Router membutuhkan IP Address yang berbeda-beda.

wirelessbridge-2

Dari gambar di atas, terlihat bahwa jaringan Anda menjadi lebih rumit. Kehadiran Wireless Router membuat jaringan tersebut memiliki beberapa network lagi. Secara keseluruhan jaringan tersebut memiliki 5 (lima) network, masing-masing network tersebut adalah :

  • Net. 192.168.1.0 untuk melayani jaringan kabel
  • Net. 192.168.2.0/24 untuk menghubungkan Router GW dengan Wireless Router WR-1, Wr-2 dan WR-3.
  • Net. 10.10.10.0/24 untuk melayani laptop yang terhubung ke WR-1
  • Net. 10.10.20.0/24 untuk melayani laptop yang terhubung ke WR-2
  • Net. 10.10.30.0/24 untuk melayani laptop yang terhubung ke WR-3

Dengan hadirnya 5 (lima) network, maka praktis jaringan Anda menjadi lebih rumit dan pekerjaan konfigurasi tentu akan menjadi lebih panjang dan rumit. Anda harus mengaktifkan 3 (tiga) DHCP Server, Anda harus melakukan konfigurasi routing pada Router GW , begitu pula jika ingin menghadirkan fitur roaming pada ketiga cell wireless. Roaming antar network yang berbeda tentunya akan lebih rumit dari pada menghadirkan roaming pada network yang sama.

Dengan hadirnya 3 (tiga) Wireless Router, Anda sudah membangkitkan 3 (tiga) network baru, bagaimana jika Anda membangun jaringan wireless dengan 100 Access Point, berapa banyak lagi network baru yang ingin Anda bangunkan.

 

Alternatif 3 (Wireless Bridge)

Untuk menyederhanakan jaringan yang cenderung rumit karena penggunaan Wireless Router, maka Anda sudah harus mempertimbangkan penggunaan Bridge. Karena Bridge yang akan digunakan adalah bridge pada jaringan wireless, maka mari kita sebut saja dia sebagai Wireless Bridge.

Bridge adalah perangkat yang bisa menghubungkan 2 (dua) atau lebih network yang berbeda. Dan perlu lagi kita ingat, bridge tidak pernah hadir sebagai perangkat utuh. Jangan pernah Anda ke toko komputer, dan bertanya “Bisakah saya membeli bridge di sini?”. Bridge hanya hadir sebagai fungsi yang bisa dijalankan oleh router, baik itu router biasa, maupun wireless router. Pada beberapa literatur bule yang kami baca, mereka menyebutkan “Bridge come after Router”. Sehingga bisa diartikan bahwa bridge hadir setelah router, bridge lahir dari router, bridge dapat ditemukan pada router. Jadi, bila Anda ingin mencari bridge, pergilah ke toko komputer, carilah Router dan lihatlah spesifikasi router tersebut, “Apakah router tersebut sanggup melahirkan Bridge?” :)

Kembali lagi pada topologi, jika akhirnya kita menggunakan Wireless Router dan perangkat tersebut sanggup melahirkan bridge, maka topologi pada alternatif ketiga ini akan terlihat seperti berikut ini.

wirelessbridge-3

Dari gambar di atas terlihat bahwa ketiga Wireless Router menghadirkan bridge atau menjalankan fungsi bridging. Bridge tersebut hadir dengan menghubungkan, menjembatani, melakukan bridging interface ether1 dan wlan1. Ini membuat interface ether1 dan wlan1 menjadi terhubung langsung layaknya port-port pada Switch. Jika mengacu pada OSI Model, maka pada kondisi ini Wireless Router WR-1, WR-2 dan WR-3 tidak lagi bekerja pada Layer 3, namun sudah bekerja pada Layer 2, seperti layaknya Switch. Sehingga pada kondisi ini, ketiga Wireless Router tersebut dapat dikatakan sudah menjadi Wireless Bridge.

Dengan penggunaan Wireless Bridge, maka pengalamatan dari jaringan wireless pada artikel ini menjadi lebih sederhana. Terlihat pada alternatif ketiga ini, jaringan wireless tersebut kembali lagi hanya memiliki 2 (dua) network, masing-masing adalah network 192.168.1.0/24 dan network 192.168.2.0/24. Sama seperti saat kita menerapkan penggunaan Accesss Point pada alternatif 1. Terlihat pula bahwa ketiga laptop akan menggunakan IP Address 192.168.2.xx/24, meskipun mereka terhubung pada Wireless Bridge yang berbeda-beda.

Layaknya perangkat jaringan yang bekerja pada Layer 2 OSI Model, ketiga Wireless Bridge tidak harus menggunakan IP Address. Terlihat pada gambar di atas, bahwa WR-1, WR-2 dan WR-3 tidak memiliki IP Address, layaknya Switch yang biasa kita gunakan. Meskipun tidak memiliki IP Address,  ketiga Wireless Bridge tersebut akan tetap bisa melayani ketiga laptop yang ada.

Namun, untuk kepentingan konfigurasi secara remote, sangat perlu untuk mengkonfigurasikan IP Address pada masing-masing wireless bridge. Contoh penggunaan IP Address pada Wireless Bridge dapat dilihat pada gambar berikut ini.
wirelessbridge-4

Artikel lengkap tentang Wireless Bridge bisa dilihat pada Buku “Implementasi Wireless Indoor dengan menggunakan Router MikroTik”, terbitan Jasakom 2015

book-mikrotik_wireless

 

bersambung…

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*